Esai-Esai Seorang Penulis Fiksi: Eka Kurniawan
Ditulis untuk Mata Kuliah Proses Kreatif Esai
(2020)
Esai-Esai Seorang Penulis Fiksi: Eka Kurniawan
Eka Kurniawan lahir di Tasikmalaya, 1975, menyelesaikan pendidikan dari Fakultas Filsafat, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta tahun 1999. Pada tahun itu ia menerbitkan buku pertamanya yang berasal dari tugas akhir kuliah, Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis. Ia menulis cerita pendek, novel, maupun esai di berbagai media. Esai-esai yang ia tulis juga dimuat ke dalam blog pribadinya, Eka Kurniawan Journal. (Sumber: blog Eka Kurniawan Journal)
Salah satu esai terbaru yang beliau unggah berjudul Balzac dan Fantasi Global yang diunggah pada tanggal 15 Maret 2020 dan diterbitkan pertama kali di Jawa Pos, 7 Maret 2020.
Hasil Analisis :
Sepertinya beliau menulis esai Balzac dan Fantasi Global sebagai bentuk reaksi atas wabah global yang terjadi saat ini, virus korona. Wabah korona ini hampir melumpuhkan sebagian negara. Beliau menulis ini juga seperti memberikan masukan kepada masyarakat untuk berliterasi dengan baik. Membaca dan menonton bukan hanya sekadar sebagai hiburan, tetapi juga sebagai pelajaran.
Di dalam esai Balzac dan Fantasi Global , Eka menuliskan pandangannya tentang fantasi sebuah buku catatan perjalanan yang ditulis oleh seorang penulis Prancis, Honoré de Balzac. Buku itu menceritakan tentang perjalanan dari Paris ke Jawa, tanpa pernah menginjakkan kaki ke tanah Jawa. Menurut informasi, Balzac hanya mendengar cerita dari temannya, yang mungkin cerita itu dilebih-lebihkan, baik oleh Balzac maupun temannya.
Pandangan tentang fantasi di dalam buku itu, ia kaitkan dengan kejadian yang melanda dunia saat ini, wabah korona. Sebelumnya mengaitkannya dengan wabah korona, terlebih dahulu Eka mengajak pembaca untuk memahami bagaimana fantasi itu mempengaruhi pikiran dan tindakan manusia. Misalnya, di dalam buku yang ditulis Balzac, terdapat pandangan tentang perempuan Jawa, “semua putih, hanya alis mereka yang hitam pekat dan mata cokelat mereka membentuk kontras atas wajah pucat ajaib ini”. Dan menambahkan, ”Sebagian besar perempuan ini kaya, banyak di antaranya janda.”
Tidaklah mungkin semua perempuan Indonesia pada masa itu, memiliki kulit yang semua putih dan sebagian besar merupakan janda kaya. Sedangkan, Indonesia saat itu dalam masa penjajahan Eropa. Berlebihan memang, apalagi kita yang belajar sejarah Indonesia, pasti tahu keadaan masyarakat Indonesiapada masa penjajahan. Kemudian, fantasi Balzac ini membuat penyair Prancis Arthur Rimbaud sampai mendaftar jadi tentara Belanda dan dikirim ke Jawa.
Menurut Eka, fantasi membantu manusia melakukan simulasi bagaimana dunia dan waktu di tempat yang berbeda. Di dalam esai ini Eka mengajak pembaca untuk melakukan reaksi yang tepat dan membaca hal apa saja yang akan terjadi jika saja kita benar-benar memanfaatkan fantasi yang terdapat di dalam novel atau film-film, yang menggambarkan atau menfantasikan suatu peristiwa, yang kemudian benar-benar terjadi di dunia nyata.
Di akhir esainya, beliau menulis, “kita hanya perlu memiliki fantasi lain, harapan lain, rasa penasaran lain dan tergerak olehnya. Setidaknya dari Blindness, kita bisa mencegah wabah tak berujung menjadi situasi anarkistis di mana, siapa yang punya uang lebih, bisa memborong masker dan mi instan lebih banyak.”
Dan pada akhirnya, esai ini beliau tulis untuk mengajak masyarakat tidak panik dalam menghadapai suatu situasi dan tidak gegabah mengambil suatu keputusan yang dapat merugikan diri sendiri dan orang banyak. Terutama kaitannya dengan wabah korona yang terjadi melanda dunia saat ini.
Pendapat tentang esai yang ditulis Eka Kurniawan
Sebelum menguraikan pendapat saya tentang esai yang ditulis Eka Kurniawan, saya akan terlebih dahulu memaparkan pengalaman saya dalam membaca esai. Saya baru tertarik dengan esai, saat memasuki bangku kuliah saat ini. Sebelumnya, saya jarang sekali membaca esai, apalagi esai-esai dari penulis-penulis handal Indonesia, seperti Goenawan Muhammad dan Eka Kurniawan. Baru saat inilah, saya tertarik untuk membaca esai-esai beliau. Dan esai penullis lainnya, selain karena tuntutan proses perkuliahan. Oleh sebab itu, pendapat saya ini berdasarkan esai-esai yang saya baca (belum dan/atau tidak semua esai saya baca). Saya menyadari kekurangan dalam pengalaman membaca esai.
Menurut saya, selain baik dalam menulis cerpen dan novel. Beliau juga baik dan mahir dalam menulis esai. Dari beberapa esai yang saya baca di blog beliau─Eka Kurniawan Journal. Beliau lebih cenderung menulis esai yang sesuai dengan isu, kaus, kejadian, atau peristiwa yang terjadi saat ini. Misalnya esai Balzac dan Fantasi Global berkaitan dengan wabah korona, esai Lempar Kuasa berkaitan dengan kejadian perundungan seorang anak perempuan oleh tiga orang anak laki-laki dan kuasa media sosial, ada juga esai Kita, Tetangga, dan Papua berkaitan dengan isu RAS pada tahun 2019.
Beliau menulis dengan bahasa seperti sebuah cerita─mungkin terpengaruhi oleh latar belakang beliau sebagai penulis cerpen dan novel. Hal tersebut membuat esai yang beliau tulis mudah dan nyaman untuk dibaca─saat membaca “mengalir” begitu saja. Bahasa yang digunakan beliau bahasa yang sederhana sehingga mudah dibaca.
Esai-esai yang beliau tulis juga berdasarkan pengetahun dan pengalaman beliau. Misalnya, esai Merasa Benar dan Merasa Salah, di dalam esai itu beliau memberikan pandangan tentang masyarkat saat ini yang lebih banyak merasa paling benar, padahal bisa jadi mereka-lah yang salah. Melalui esai ini beliau bercerita tentang pengalaman saat berkunjung ke kota Hoi Chi Minh, Vietnam yang semrawutnya melebihi kota Jakarta. Selain itu, beliau juga menulis pengantar buku, seperti pengatar buku “Seribu Kunang-Kunang di Manhattan” karya Umar Kayyam.
Saya mulai tertarik untuk membaca tulisan-tulisan beliau yang masih asing bagi saya. Apalagi beliau merupakan salah satu tokoh penulis abad ini.
Komentar
Posting Komentar