ULASAN BUKU: ANTOLOGI CERITA RAKYAT PULAU AMBON DAN PULAU-PULAU LEASE
Identittas Buku
Judul: Antologi Cerita Rakyat Pulau Ambon dan Pulau-Pulau Lease
Penulis: Anna P. Soplanit - Aprilia Beatrix Mainake - Betsi Paulina Urlialy Debby Latukolan - Elizabeth Hehanussa - Elizabeth Hiariej Ester Haumahu - Fitriah Djibran - Halija Pelu Inggrit Schane J. Sahertian - Iriyani Ode - Jacomina Lopulalan Juliana Sapulette - La Amudin - Leonie Sipahelut - Martha Telapary Martje Dela Maitimu - Maryam Usemahu - Masnun Laitupa Mersye M. Aipassa - Munarita Iriani - Prodonse Ivone Huwae Risna J. Muskitta - Rusna Lohy - Ruth Tutupary - Santjie I. Amarduan Sri Utari - Syarifa Munira Bin Thahir - Tabitha Pattean Tressy Nensy Loupatty - Yeremias Jemi Rettob - Yulhendri
Penyunting: Asrif - Evi Olivia Kumbangsila
Desain Sampul/Penata huruf: Mono Goenawan
Tahun terbit: 2019
Kantor Bahasa Maluku Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan kerja sama Penerbit Garis Khatulistiwa (De La Macca Grup)
CERITA RAKYAT PULAU AMBON DAN PULAU-PULAU LEASE
“Lawamena hiti hala lawamena haulala! (Maju ke depan beramai-ramai, kobarkan pertempuran dan hancurkan musuh!).” -Kapitan Telukabessy dalam cerita Perang Kapahaha (perang rakyat Hitu melawan VOC)
Buku Antologi Cerita Rakyat Pulau Ambon dan Pulau-Pulau Lease merupakan antologi cerita rakyat yang berisi 35 judul cerita rakyat yang berasal dari Pulau Ambon dan Pulau-Pulau Lease yang ditulis oleh guru-guru di Provinsi Maluku yang telah mengikuti pelatihan menulis cerita rakyat dalam program gebyar literasi yang dilaksanakan oleh Kantor Bahasa Maluku.
Seperti yang kita tahu, cerita rakyat merupakan salah satu bentuk sastra lisan. Cerita rakyat terkenal dan dituturkan secara turun-temurun dan penuh dengan nilai-nilai luhur. Biasanya cerita rakyat mengandung pesan moral untuk mendidik masyarakat. Menurut Rohmadi (2016) cerita rakyat memiliki kekuatan untuk mempertahankan kearifan lokal, nilai budaya, dan mengandung nilai-nilai pendidikan karakter bagi masyarakat.
Begitu juga buku ini yang berisi beragam cerita rakyat yang berasal dari Pulau Ambon dan Pulau-Pulau Lease, mulai dari cerita kesatrian/kapitan, asal muasal suatu negeri atau nama negeri, asal-usul soa, cerita persaudaraan (gandong/pela gandong), sampai cerita fabel yang mengandung unsur-unsur kebudayaan dan nilai-nilai budaya.
Kepulauan Maluku, termasuk Pulau Ambon dan pulau sekitarnya pernah dijajah oleh bangsa Eropa (Portugis dan VOC (Belanda)). Sejak dulu, Maluku terkenal dengan kekayaan alam seperti rempah-rempah yang membuat bangsa penjajah tertarik untuk menguasainya. Bukti peninggalan penjajahan tersebut dapat dilihat dari benteng-benteng dan museum yang masih berdiri kokoh di sana. Sejarah panjang Maluku ini menghasilkan cerita turun-temurun tentang kesatrian rakyat yang perang melawan penjajah untuk mempertahankan tanah nenek moyangnya, salah satunya ada di dalam cerita Perang Kapahaha serta Batu Anyo-Anyo yang dapat dibaca di dalam buku Antologi Cerita Rakyat Pulau Ambon dan Pulau-Pulau Lease.
Tiga puluh lima judul cerita dalam buku ini memiliki cerita yang berbeda-beda dengan pesan moralnya sendiri. Namun uniknya, ada tiga judul dengan cerita yang sama dengan versi yang berbeda di dalam buku ini. Perbedaan ini terdapat pada judul dan nama tokoh, yaitu Petrus Pencari Kayu Kering dengan tokoh utamanya bernama Petrus; Yongki si Penebang Kayu dengan tokoh utamanya bernama Yongki; dan Yongker si Yatim Piatu dengan tokoh utamanya bernama Yongker. Sebab salah satu ciri cerita rakyat atau folklor ialah memiliki banyak versi, maka begitu juga cerita di dalam antologi ini.
Dua tema di atas merupakan contoh cerita dalam buku ini yang menarik untuk dibaca, masih ada judul lain yang tak kalah seru dan kaya cerita moral. Secara garis besar, buku ini lebih banyak berisi kisah tentang persaudaraan atau gandong/pela gandong, simbol hidup rukun dan damai di Maluku. Selain itu, pembaca juga dapat mengenal dan menambah wawasan tentang budaya dan bahasa khususnya di Pulau Ambon dan Pulau Lease.
Namun, karena antologi ini ditulis oleh penulis yang berbeda-beda, gaya bahasa setiap cerita juga berbeda. Biar pun berbeda, pembaca tetap bisa menikmati dan memahami isi cerita dengan baik. Apalagi ada beberapa penulis yang melampirkan glosarium atau catatan yang menggunakan bahasa daerah, sehingga pembaca dapat mengerti bahasa yang digunakan. Menarik, bukan? Jadi menambah wawasan dan pengetahuan.
Selain buku fisik, teman-teman pembaca juga dapat membaca e-book yang disediakan oleh laman Kantor Bahasa Maluku.
Referensi
Rohmadi, M. (2016). Kearifan Lokal, Nilai Budaya, dan Pendidikan Karakter dalam Cerita Rakyat di Provinsi Jawa Tengah dalam Perspektif Psikopragmatik. In Prosiding Seminar Nasional Asosiasi Tradisi Lisan (pp. 337-340). Bali: Pustaka Larasan.

Komentar
Posting Komentar