Mencari Memori Berfilsafat

Tulisan ini adalah tugasku saat mengikuti mata kuliah Dasar-Dasar Filsafat. Jauh sebelum itu, seingatku aku pertama kali bertemu kata 'filsafat' sewaktu sekolah menengah. Ya, saat itu hanya sekadar tau saja tanpa memahami esensi filsafat. Kemudian, sejak aku bertemu mata kuliah ini di semester tiga, aku semakin tertarik dengan filsafat. Tulisan ini adalah tulisanku di tahun 2020 tentang mencari ingatan-ingatan berfilsafat.
Mencari Memori Berfilsafat dalam Folder Kenangan
Menurut salah satu sumber yang saya baca, filsafat di kalangan masyarakat kerap dikaitkan dengan keinginan untuk memikirkan suatu permasalahan secara lebih jauh dan mendalam dan tidak terbatas pada tuntutan lahiriah. Kemudian sumber itu mengibaratkan seperti ini, "Siapa yang tidak sedih mengalami kegagalan setelah berupaya dan berkorban segala macam, tetapi nasehat yang datang “cobalah lebih filosofis melihatnya. Pasti ada hikmah yang tersembunyi di balik kegagalan ini!” atau “berjuanglah dengan memakai filsafat garam, dan jangan pergunakan filsafat gincu!” demikian nasehat para orang pintar."
Lalu pada akhirnya, sumber itu menyimpulkan, "Maksud, nasehat itu, oleh karenanya, kalau berjuang yang penting bukan supaya terlihat orang lain dan digembar-gemborkan, tetapi hasil dan dampaknya yang mendalam. Ungkapan ini juga bermakna bahwa yang lebih berharga dan luhur adalah perjuangan tanpa pamrih, tanpa upacara dan tanda jasa. Ini juga pemakaian kata filsafat di kalangan masyarakat.
Kemudian saya sendiri menyimpulkan, “Setidaknya saya sedikit tahu dan pernah berfilsafat. Mungkin.”
Dua puluh satu tahun saya diberi kesempatan untuk menghirup udara dan merasakan nikmatnya air putih, munafik rasanya jika saya tidak pernah berfilsafat. Tetapi saya pun tidak yakin bahwa saya pernah berfilsafat. Ahh.. tugas ini membuat saya mengutak-atik folder-folder di otak saya. Mencari di mana saya meletakkan masa dan kenangan di mana saya pernah berfilsafat.
Selama proses mencari memori berfilsafat itu, saya ingat kenangan-kenangan saya dulu. Saya terlahir dari keluarga yang sederhana. Ayah saya seorang nelayan, ibu saya seorang Bunda PAUD. Saya ingat betul, sebelum tahun 2006, saya hanya memiliki satu orang adik. Kami hanya dua bersaudara saat itu. Bagi saya (yang masih bocah), saat itu adalah masa-masa terindah saya. Tidak ada marah, hanya bermain, dan jajan ke minimarket setiap ayah pulang dari laut, buku-buku cerita, majalah Bobo...
Semuanya indah. Namun, lambat laun semua itu hilang perlahan diganti dengan memori abu-abu. Mungkin bagian memori ini yang bisa saya anggap “Kenangan Berfilsafat”. Saya tidak ingat kapan saya bisa menulis. Tapi saya ingat, saya senang menulis buku harian. Setiap hari, setiap kenangan, saya tulis dalam buku diary. Saya pikir saat itu saya berfilsafat.
Memori abu-abu itu membuat saya teringat pertanyaan-pertanyaan yang pernah hadir dalam hidup saya.
Mengapa saya hidup? Mengapa saya hadir di dunia? Mengapa terlahir dari keluarga ini? Tidak bisakah saya meminta untuk hadir dalam keluarga yang “lebih baik”? Mengapa Tuhan menciptakan saya jika yang diberikan-Nya hanya sebuah kenangan buruk juga indah secara bersamaan? Mengapa Tuhan tidak adil?
Saya marah kepada Tuhan, tapi saya tidak tahu wujud Tuhan. Jadi, percuma saya marah.
Pertanyaan-pertanyaan itu saya sadari hanya seputar tentang kehidupan dan takdir. Saya tidak menerima takdir yang diberikan Tuhan. Tuhan selalu tidak adil dengan saya, tidakkah Tuhan kasihan dengan anak kecil seperti saya waktu itu? Saya tetap tidak menemukan jawaban-jawaban itu, tapi Tuhan punya cara lain menjawabnya.
Tuhan membuat saya menjadi lebih kuat dari yang saya kira. Tapi di sisi lain Tuhan membuat saya menjadi anak yang sangat lemah. Menurut psikolog saya, saya adalah seorang struggle. Seorang yang mempunyai keinginan yang sangat kuat dan berusaha mewujudkannya. Saya juga berpikir seperti itu.
Keinginan dan impian yang sangat kuat itu, saya sadari dari diri saya sendiri. Tapi ada tangan tidak terlihat yang membantu saya mewujudkannya. Kata guru agama saya, semuanya karena bantuan dan pertolongan dari Tuhan. Beliau menasehati saya untuk selalu bersyukur atas semua nikmat Tuhan, menyembah, dan beribadah kepada-Nya.
Tapi apakah kekuatan Tuhan ini adalah salah satu jawaban atas pertanyaan-pertanyaan saya? Tidak. Saya tidak puas. Saya masih terus mencari keadilan dari Tuhan. Saya benar-benar buta dan tidak mengetahuinya. Tapi dengan saya masih bisa bernapas sampai saat ini. Saya pikir Tuhan adil kepada saya. Tuhan memberikan kesempatan untuk saya mengumpulkan kebaikan agar saya bisa membeli tiket ke surga-Nya. Saya percaya surga dan neraka itu ada, saya percaya hari pengadilan itu ada. Saya percaya karena agama saya menuntun saya untuk mempercayainya.
Saya tidak yakin, apakah memori abu-abu ini benar-benar membantu saya menemukan di mana saya pernah berfilsafat? Saya ragu. Namun, pertanyaan-pertanyaan saya tentang kehidupan dan takdir sampai saat ini belum saya temukan jawabannya. Persis seperti pertanyaan yang muncul saat saya duduk di bangku sekolah dasar.
Untuk apa saya sekolah? Jika di rumah saja saya sudah bisa belajar membaca dan menulis dengan ibu saya. Mengapa saya harus mengalah kepada anak laki-laki? Jika saya pun bisa berkelahi seperti mereka.
Lalu saat di bangku sekolah menengah pertama, saya ingat saya pernah merasakan yang orang sebut “Cinta Monyet”. Lalu saya bertanya lagi, mengapa laki-laki dan perempuan bisa saling menyukai? Apa itu cinta sebenarnya? Apa cinta itu selalu menyakitkan? Mengapa teman-teman sebaya saya ‘gengsi’ jika tidak punya pacar? Naif. Itu yang saya pikirkan jika saya mengingat kembali masa sekolah menengah pertama saya.
Kemudian sekolah menengah akhir, saya tidak ingat ada apa di sana. Saya hanya ingat, masa sekolah menengah akhir adalah masa saya menemukan diri saya yang penuh sandiwara. Menutupi kekurangan dengan kepura-puraan, melebih-lebihkan keunggulan dengan istilah “merendah untuk meroket”. Saya pikir kehidupan itu sendiri adalah panggung pertunjukan. Jadi tidak masalah jika saya ikut bersandiwara, bukan?
Lalu, apakah saya benar-benar telah menemukan memori saya berfilsafat? Saya pikir belum. Saya ragu.
Komentar
Posting Komentar