"Alasan untuk Tetap Hidup" Buku Matt Haig untuk Pembaca yang Ingin Mengetahui Depresi dan Gangguan Kecemasan

Identitas Buku

Judul : Alasan untuk Tetap Hidup

Penulis : Matt Haig

Editor : Miranda Malonka

Penerjemah : Rosemary Kesauly

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit : 2018

 

 


Dunia yang penuh dengan orang yang membenci diri sendiri bukanlah dunia yang bahagia.” hlm.237

Semua orang mungkin pernah mengalami depresi, cemas yang berlebih, atau serangan panik yang tiba-tiba. Namun, sering kali tidak semua orang menyadari ia mengalami depresi, bahkan menyangkal gejala-gejalanya sebagai “sesuatu” yang tidak perlu dipermasalahkan. Salah satu orang yang pernah mengalami depresi ialah Matt Haig, penulis buku ini, ia pernah berpikir untuk bunuh diri saat berusia 24 tahun.

Matt Haig merupakan seorang penulis dan jurnalis asal Inggris. Ia telah menulis banyak buku, baik bergenre fiksi maupun nonfiksi. Buku-buku yang beliau tulis pun beberapa telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia. Salah satu bukunya yang terkenal ialah The Midnight Library dan Reasons to Stay Alive yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Buku ini berisi pengalaman Matt Haig sebagai seorang penyintas depresi dan ditulis olehnya dengan penuh keberanian. Ia menceritakan dari awal gejala depresi dan kecemasan itu muncul dalam hidupnya, serangan-serangan panik yang datang bertubi, perjuangannya melawan depresi, sampai akhirnya bagaimana ia bisa bertahan dan mencari #alasanuntuktetaphidup.

Depresi bisa menimpa siapa saja, tak pandang gender, bahkan orang-orang terkenal seperti presiden, atlet, penulis, petinju, selebriti, tak pandang bulu memang. Banyak yang memilih untuk mengakhiri penderitaannya (baca: mengakhiri hidup) dan banyak pula yang memilih untuk bertahan dengan beragam alasan. Bagaimana pun dukungan dari orang terdekat, seperti pasangan dan keluarga sangat penting bagi penyintas.

Harus digarisbawahi pula apa yang dikatan Matt Haig dalam bukunya ini, “sangat sulit menjelaskan depresi kepada orang-orang yang belum pernah mengalaminya” (hlm. 134).

Aku setuju dengan penulis. Orang-orang yang belum pernah merasakan depresi (atau menyangkal bahwa dia mengalami depresi) akan sulit memahami para penyintas. “Kurang beribadah”, “Jauh dari Tuhan”, “Kau terlalu melankolis”, “Hiduplah realistis”, “Kau terlalu lama bersedih!”, “Kembalilah ke Tuhanmu”, dan berbagai ‘nasehat’ lainnya. Dan yang paling sering dikatakan oleh lingkungan kita ialah yang berkaitan dengan Tuhan dan agama. Huft…

Benarlah kita memang tidak bisa bergantung kepada orang lain. Lalu menurut Matt Haig, hal pertama yang bisa dilakukan seorang penyintas depresi dan menurutnya sangat perlu dilakukan sekarang adalah mendengarkan diri sendiri (hlm. 85). Ketika berusaha pulih, satu-satunya kebenaran yang paling penting adalah cara yang paling pas untuk diri kita sendiri, kita adalah laboratorium terbaik bagi diri kita sendiri. Lanjut Matt Hait.

Peran orang-orang terdekat juga sangat penting dalam mendampingi penyintas. Hal paling utama yang bisa Anda lakukan adalah hadir dan menemani (hlm. 130). Sadari bahwa kamu dibutuhkan, pahamilah kondisi penyintas, dan jangan menghakimi.

Matt dan Andrea (istrinya) | foto: instagam/mattzhaig

Buku yang terdiri dari lima bab ini semacam memoar atau mungkin diary yang ditulis secara runtut oleh penulis. Kelima bab tersebut ialah Jatuh, Mendarat, Bangkit, Menjalani Hidup, dan Menjadi Bagian dari Kehidupan. Setiap bagian terdapat beberapa subbab yang akan membantu pembaca mengenal dan menyelami kehidupan penyintas depresi. Setidaknya, setelah membaca buku ini kita tidak beranggapan bahwa “Depresi tidak separah itu” dan menyepelekannya.

Selain itu, penerjemah juga sangat piawai, sehingga mudah memahami setiap konteks dan gagasan yang ditulis oleh penulis. Satu-satunya hal yang mungkin membuat buku ini sedikit tidak nyaman ialah mengandung trigger tertentu saat membacanya, termasuk aku yang butuh waktu tidak sebentar membacanya sampai halaman terakhir. Saat membaca buku ini terkadang membuatku ingin menangis dan ada dorongan tertentu yang membuat tidak nyaman. Jadi, kusarankan bacanya perlahan saja dan baca di saat santai.

Buku ini sangat dianjurkan untuk dibaca oleh siapa saja, baik penyintas, pendamping, maupun orang-orang yang ingin tahu apa itu depresi.


Tasikmalaya, 25 Oktober 2024

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Esai-Esai Seorang Penulis Fiksi: Eka Kurniawan

ULASAN BUKU: ANTOLOGI CERITA RAKYAT PULAU AMBON DAN PULAU-PULAU LEASE

Cinta dan Kasih Tidak Pernah Cacat, Meski Kami Seorang Tunadaksa