Mengenal Childfree dan Hal-Hal yang Harus Kamu Ketahui tentang Hidup Bebas Anak dari buku “Childfree & Happy Keputusan Sadar Hidup Bebas Anak” karya Victoria Tunggono

Beberapa tahun terakhir ini childfree menjadi topik yang ramai dibicarakan masyarakat Indonesia. Istilah ini populer setelah seorang influencer Indonesia dan suaminya mengungkapkan bahwa mereka memilih untuk childfree. Sejak itu, istilah ini sering menjadi bahan diskusi.

Pengertian Childfree

Tahu filosofi “banyak anak, banyak rezeki”? Filosofi ini terkenal di masyarakat Indonesia, bahkan sampai saat sekarang masih ada keluarga yang memegang prinsip ini. Mereka percaya banyak anak berarti banyak rezeki atau keberuntungan. Hal ini pun tak lepas dari peran keyakinan yang dianut bahwa setiap anak atau setiap orang membawa rezekinya masing-masing. Padahal filosofi yang muncul sejak era kolonial Belanda di Indonesia ini merupakan slogan yang dipakai pihak Belanda sebagai propaganda untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja secara gratis pada masa Cultuurstelsel. Istilah childfree justru bertentangan dengan filosofi tersebut. Saat menerjemahkan childfree ke dalam bahasa Indonesia saja kita sudah tahu bahwa istilah tersebut mengarah kepada bebas anak.

Istilah childfree pertama kali muncul di kamus bahasa Inggris Meririem-webster sebelum tahun 19001 yang mengartikannya sebagai without children (tanpa anak). Kemudian, dari kamus Macmillan mengartikannya sebagai used to describe someone who has decided not to have children (digunakan untuk menggambarkan seseorang yang telah memutuskan untuk tidak punya anak), dan kamus Collins mengartikannya sebagai having no children; childless; especially by choice (tidak punya anak; tanpa anak, terutama karena pilihan). Istilah ini hanya dikenal dalam bahasa Inggris-Amerika.

Victoria Tunggono dalam bukunya yang berjudul “Childfree and Happy” yang diterbitkan pada tahun 2021 oleh EABooks menyebutkan bahwa childfree (yang ia terjemahkan menjadi Bebas-Anak) adalah pilihan hidup yang dibuat secara sadar oleh orang yang menjalani kehidupan tanpa ingin melahirkan atau memiliki anak. Dari pengertian-pengertian tersebut dapat kita sederhanakan bahwa childfree ialah kondisi seseorang atau pasangan yang secara sadar memilih untuk tidak memiliki anak.

Masih dalam buku “Childfree and Happy”, Victoria Tunggono memaparkan ada tiga hal yang perlu diketahui tentang childfree, yaitu childfree sebagai pilihan hidup, childfree bukan childless, dan alasan memilih childfree. Berikut ulasannya.

Childfree sebagai Pilihan Hidup

Tren childfree merupakan hal yang biasa di negara-negara barat, gaya hidup ini banyak dianut oleh orang maupun pasangan di sana. Meskipun bukan sesuatu hal yang baru di Indonesia, namun konsep childfree ini belum banyak dipahami oleh masyarakat Indonesia. Mengapa childfree bukan sesuatu yang baru? Salah satu referensi di media digital mengangkat kisah sepasang suami-istri yang telah bertahun-tahun menikah dan memilih untuk tidak memiliki anak. Sebelumnya, mereka tidak mengetahui istilah childfree, mereka hanya memilih untuk menunda memiliki anak. Kemudian berlanjut sampai bertahun-tahun pernikahan mereka. Alasan utama mereka adalah kesibukan pekerjaan masing-masing yang membuat mereka harus beberapa kali pindah domisili dan akan sulit menjalaninya jika memiliki anak.

Jepang adalah salah satu negara di Asia yang telah lama menerapkan gaya hidup ini. Salah satu penelitian di Jepang dalam buku “Childfree and Happy” menyebutkan bahwa Jepang sebagai salah satu negara Asia dengan angka kelahiran yang semakin menurun dari tahun ke tahun. Hal ini karena penurunan angka pendapatan rumah tangga membuat perempuan/istri di Jepang harus ikut bekerja membantu suami mereka. Selain faktor ekonomi, orang-orang yang memilih childfree juga memikirkan kebebasan yang didapat jika memilih untuk tidak melibatkan kehadiran anak di kehidpan mereka.

Childfree Bukan Childless

Ada dua kategori tentang hidup tanpa anak dalam buku “Childfree and Happy”, yaitu childfree dan childless. Jika childfree adalah keputusan sadar untuk hidup tanpa (bebas) anak, sedangkan childless adalah kategori orang-orang yang tidak punya anak karena faktor di luar kehendak mereka, seperti kondisi fisik dan biologis. Childless bukan pilihan, tetapi sebuah keterpaksaan karena keadaan.

Buku “Childfree and Happy” menyebutkan bahwa pada kasus childless, orang-orang atau pasangan biasanya menginginkan anak, tetapi tidak mampu bereproduksi karena penyakit atau gangguan fisik maupun faktor lain. Jadi, seseorang atau pasangan yang memilih childfree tidak serta merta mereka childless. Ada kemungkinan mereka dapat memiliki anak, namun mereka memilih untuk hidup tanpa anak.

Alasan Orang Memilih Childfree

Ada banyak alasan orang memilih childfree dan pastinya setiap orang mempunyai alasan yang berbeda. Ada yang sekadar memang tidak ingin memiliki anak tanpa alasan spesifik, faktor ekonomi, pendidikan, dan sebagainya. Dalam buku “Childfree and Happy” terdapat lima kategori alasan orang-orang memilih childfree. Kategori ini berdasarkan pendapat Corinne Maier dalam No Kids: 40 Reasons For Not Having Kids.

Pertama, alasan pribadi. Alasan ini muncul dari emosi atau batin seseorang yang mengalami berbagai pengalaman dan perenungan pribadi. Ada yang banyak faktor yang menyebabkan seseorang memilih untuk childfree, misalnya karena merasa tidak sanggup mengurus anak dan membahagiakan anak, pengalaman dari kehidupan keluarganya, bagi perempuan mungkin khawatir terhadap efek kehamilan, dan faktor lainnya.

Kedua, alasan psikologis dan medis. Alasan psikologis berkaitan dengan pikiran bawah sadar, termasuk trauma yang dialami seseorang. Alasan medis berkaitan dengan dengan keterbatasan fisik seseorang. Salah satu narasumber yang mengidap bipolar dalam buku “Childfree and Happy” menyatakan:

“Aku enggak yakin kalau aku punya anak nanti hidupnya akan bisa berkualitas―mengingat kondisi sekarang sudah separah ini. Kalau aku cacat atau meninggal lalu enggak sanggup merawat anakku, siapa yang akan merawat dia? Siapa yang akan menjamin kehidupan masa depannya?”

Ketiga, alasan ekonomi. Alasan ekonomi menjadi alasan yang paling realistis untuk memilih childfree. Setiap orang maupun pasangan mempunyai keadaan ekonomi yang berbeda-beda. Ada yang hidup berkecukupan dan ada pula yang hidup pas-pasan hanya untuk makan hari itu saja. Saat ini biaya untuk menghidupi seorang anak tidaklah murah. Mulai dari hamil sampai melahirkan membutuhkan biaya yang besar. Setelah anak lahir, orang tua harus menjamin kesejahteraan anak, seperti gizi dan pendidikan. Semua itu memerlukan biaya yang tidak sedikit. Sebagian orang memilih childfree karena sadar dan memahami kondisi finansial mereka. Karena mereka memahami kondisi ini, mereka tidak ingin melahirkan/menghadirkan manusia lain (anak) hidup dalam ketidaksejahteraan.

Keempat, alasan filosofis. Alasan ini menyangkut pada prinsip hidup yang dianut seseorang. Cara berpikir dan cara pandang seseorang tentang kehidupan mereka maupun kehidupan secara general dapat mempengaruhi pilihan hidupnya, termasuk memilih untuk childfree. Ada yang berpikir untuk hidup dengan beramal, mengumpulkan uang untuk kegiatan sosial mengingat saat ini dunia sering terjadi bencana, sudah tentu harus ada yang membantu orang-orang terdampak bencana dan memiliki anak adalah hambatan bagi mereka. Ada yang pula yang berpikir memilih untuk tidak memiliki anak berarti menyelamatkan anak-anak dari kejahatan-kejahatan di dunia.

Terakhir, karena lingkungan hidup. Alasan ini muncul karena pertimbangan setelah melihat kondisi sekitar. Kondisi bumi saat ini memburuk, perubahan iklim saat ini sudah sangat serius, bumi semakin panas, dan bencana di mana-mana. Orang-orang yang memilih childfree dengan alasan ini percaya bahwa mereka ikut berkontribusi dan bertanggung jawab untuk bumi yang lebih baik. Memilih childfree berarti memperbaiki bumi dan menyelamatkan anak-anak. Memilih childfree berarti setidaknya mengurangi satu anak manusia yang lahir di bumi artinya jumlah manusia tidak bertambah (walaupun di belahan bumi lainnya masih ada yang melahirkan anak). Memilih childfree berarti mengurangi populasi manusia yang mungkin mengancam keberlangsungan hidup makhluk lain. 

Pada intinya childfree adalah keputusan sadar untuk hidup bebas atau tanpa anak. Hal ini karena berbagai alasan dan faktor, baik yang berasal dari individu maupun di luar individu. Bahkan, jika ia memilih dengan tanpa alasan apa pun. Sebagai manusia yang memanusiakan manusia, sudah sepatutnya untuk kita menghargai keputusan hidup seseorang tanpa mencela. Setuju, bukan?

Referensi

BBC.com. 18 Februari 2023. 'Bagaimana kamu bisa berasumsi hidup saya tidak berarti karena saya tidak punya anak?' - Pengakuan para pasutri yang memutuskan 'childfree' di Indonesia. Diakses pada 26 Februari 2023, dari https://www.bbc.com/indonesia/articles/cpd44eykx5eo 

Izzah, Latifatul. 2017. Munculnya Filosofi “Banyak Anak Banyak Rizki” pada Masyarakat Jawa Masa Cultuurstelsel. Prosiding Seminar Nasional 2017 Sastra: Merajut Keberagaman, Mengukuhkan Kebangsaan. Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia Komisariat Universitas Negeri Yogyakarta https://repository.unej.ac.id/handle/123456789/80361 

 Tunggono, Victoria. 2021. Childfree and Happy. Yogyakarta: EA Books

 

Sedikit cerita di balik penulisan ini:

Artikel ini sempat terbit di salah satu website yang cukup terkenal di awal tahun 2023. Ya, lolos seleksi editor. Namun, beberapa bulan kemudian artikel ini di-takedown oleh pihak mereka dengan alasan tidak sesuai dengan tema media. Tak apa, aku memakluminya dan aku salah memilih media saja. Jadi, dalam rangka mengisi blog yang sudah lama vakum dan kosong ini aku mempublikasikan artikel ini di sini dengan sedikit penyuntingan. Juga sayang sekali rasanya tulisan ini tak menemukan pembacanya, hanya berdiam di dalam folder laptopku. Selamat membaca, teman!

 

Tasikmalaya, 23 Oktober 2024



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Esai-Esai Seorang Penulis Fiksi: Eka Kurniawan

ULASAN BUKU: ANTOLOGI CERITA RAKYAT PULAU AMBON DAN PULAU-PULAU LEASE

Cinta dan Kasih Tidak Pernah Cacat, Meski Kami Seorang Tunadaksa