IBN RUSYD: MENGAJARKAN ISLAM DENGAN AKAL (Sebuah ulasan artikel: “Rasionalisme Islam Klasik dalam Pemikiran Ibnu Rusyd” oleh Nur Kholis, Universitas Islam Nadhatul Ulama Jepara)
| Foto: Wikipedia |
Riwayat hidup Ibn Rusyd
Menurut literatur, Ibn Rusyd terkenal atas pembelaannya terhadap filsafat yang dikritik tajam oleh Al-Ghazali. Dalam periodisasi Islam, Ibn Rusyd hidup pada masa periode Klasik (pada 650 M sampai 1250 M), sedangkan dalam periodisasi sejarah Barat, Ibn Rusyd hidup pada masa periode pertengahan. Ibn Rusyd bernama Abu al-Walid Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Rusyd atau dikenal dengan panggilan Averroes di Barat.
Ibn Rusyd menjadi orang kepercayan dan dekat dengan khalifah pada masa Dinasti Muwahhidun, sehingga mendapat jabatan tinggi. Dia mendapat dukungan dari Khalifah terutama dalam dunia filsafat, seperti mendapat tugas menafsirkan karya Aristoteles. Ibn Rusyd sangat produktif dalam menghasilkan karya ilmiah, karya-karyanya meliputi berbagai ilmu, mulai dari filsafat, fiqh, bahasa, kedokteran, astronomi, ushul fiqh, dan akhlak. Selain menghasilkan buku sendiri, beliau juga aktif memberikan ulasan terhadap karya-karya orang lain, seperti karya Plato, Ibnu Sina, sampai al-Ghazali.
Namun, setelah penggantian khalifah banyak sekelompok ulama dan fuqaha yang menuduhnya kafir. Sehingga karya-karyanya banyak dibakar dan dia mendapat hukuman pengasingan di Lucena (perkampungan Yahudi). Keahliannya dalam mengulas pemikiran Aristoteles menjadi daya tarik bagi bangsa Eropa, sehingga dalam masa pengasingan itu Ibnu Rusyd mendapat banyak pengikut dan lebih leluasa mengembangkan pemikiran. Ibnu Rusyd meninggal pada usia 72 tahun di Marakesh, setelah ia dibebaskan dari pengasingan dan kembali ke Maroko.
Pemikiran Ibn Rusyd dalam Filsafat
Ibn Rusyd sangat mengagumi pemikiran-pemikiran Aristoteles sehingga dia pun mengulas banyak karya dan pemikiran Aristoteles sekaliagus pembela filsafat Aristoteles. Ibn Rusyd beranggapan hanya Aristoteles yang dipilih Tuhan untuk memiliki filsafat. Ibn Rusyd kemudian terkenal sebagai pengulas dan pembela filsafat Aristoteles.
Menurut artikel yang saya baca, ketika memulai memasuki dunia filsafat, Ibn Rusyd tidak bermaksud membentuk aliran tersendiri dalam filsafat karena dia begitu mengagumi Aristoteles. Tetapi karena beberapa sebab, kenyataannya Ibn Rusyd memiliki aliran tersendiri dalam dunia filsafat. Sebab pertama karena filsafat Aristoteles yang datang kepada Ibn Rusyd melalui aliran Neo-Platonisme dan kedua karena banyak pemikiran-pemikiran Aristoteles yang sulit memahaminya (belum jelas). Ibn Rusyd dalam memasukkan filsafat Aristoteles dalam Islam, mengharuskannya melakukan penyesuaian yang berkaitan dengan batas-batas aqidah umat Islam. Keharusan melakukan penyesuaian ini membuat Ibn Rusyd membangun aliran filsafatnya sendiri dan mempunyai khas. Pemikiran Ibn Rusyd dikenal sebagai pemikiran yang radikal-rasionalistis.
Dalam artikel yang saya review, penulis menggambarkan rasionalisme pemikiran Ibn Rusyd dalam dua pokok filsafatnya.
1. Mengenai hubungan akal dengan Wahyu
Menurut Ibn Rusyd, semua persoalan agama harus dipecahkah dengan akal. Logika harus dipakai sebagai dasar segala penilaian tentang kebenaran. Dalam artikel tersebut menyebutkan bahwa Ibn Rusyd menyakini akal dan wahyu itu berkaitan erat dan saling mendukung, bahkan tidak dapat dipisahkan.
Ibn Rusyd berpendapat bahwa agama Islam tidak bertentangan dengan filsafat, jika pun ada perlawanan itu hanya pada tataran lahirnya saja. Menurutnya, agama maupun filsafat sumbernya hanya satu dan bersifat universal, yaitu akal aktif, termasuk akal kemungkinan.
Menurut Ibn Rusyd akal kemungkinan merupakan akal individu tertentu yang berhubungan dengan suatu bentuk materi atau orang-perseorangan. Sehingga bila individu itu meninggal, maka akal kemungkinan itu pun tidak ada lagi. Sedangkan akal aktif (akal universal) menurutnya merupakan asal sumber dan tempat kembalinya akan kemungkinan manusia individual.
Dalam artikel tersebut pemikiran Ibn Rusyd mengenai hubungan filsafat dan agama disimpulkan ke dalam empat prinsip :
a). Agama mengharuskan filsafat
b). Agama mempunyai makna eksoteris untuk orang awam dan makna esoteris untuk orang-orang tertentu.
c). Meletakkan rumus-rumus tertentu untuk menakwilkan nash agama.
d). Pembatasn kemampuan rasio dan menghubungkan antara wahyu dan akal.
2. Dalil mengenai wujud Tuhan
Menurut Ibn Rusyd mengenal Tuhan tidak akan mungkin berhasil jika kita tidak melakukan pengamatan terhadap wujud alam yang diciptakan-Nya. Wujud alam sebagai bukti adanya sang Pencipta, Tuhan Yang Maha Esa. Dalam menunjukkan dalil mengenai wujud Tuhan, Ibn Rusyd tetap berpegang kepada Al-Qur’an. Al-Qu;an sendiri ia simpulkan menjadi dua golongan dalam menunjukkan dalil tentang wujud Tuhan, yaitu dalil inayah (pemeliharaan) dan dalil ikhtira’ (penciptaan).
Dalil inayah erat kaitannya dengan pengetahuan tentang alam. Salah satu ayat Al-Qur’an yang dijadikan contoh untuk dalil ini adalah surah al-Naba ayat 6 – 16. Ayat tersebut mengajak kepada pengatahuan yang benar, mendoroang untuk menyelidiki dan menyingkap tabir rahasia alam. Menurut Ibn Rusyd pemahaman terhadap ayat ini bukan berarti membawa pemahaman yang beku dan tawakal yang tidak pada tempatnya.
Dalil ikhira’ berkaitan dengan penciptaan yang tampak jelas, seperti manusia, pohon atau tumbuhan, hewan, dan sebagainya. Dalil ini mendorong manusia untuk menyingkap jalan pengathuan sejauh mungkin dan digunakan untuk menguatkan adanya kekuasaan Tuhan. Salah satu ayat yang dicontohkan dalam artikel ini adalag surah al-Thariq ayat 5-6.
Selain itu, Ibn Rusyd juga menyanggah pandagan Al-Ghazali yang mengharamkan filsafat karena bertentangan dengan syariat. Menurutnya Al-Ghazali hanya salah paham terhadap persoalan tersebut. Persoalan itu ada empat yaitu; tentang keabadian alam, pengetahuan Tuhan (terhadap berbagai peristiwa kecil), kebangkitan jasmani setelah mati, dan hukum sebab-akibat dan hubungannya dengan mukjizat.
Dari sanggahannya terhadap pandangan Al-Ghazali ini, Ibn Rusyd mencoba untuk membangkitkan kembali semangat berpikir umat yang sebelumnya sudah terdoktrin pemahaman dari Al-Ghazali. Karena menurut Ibn Rusyd filsafat Islam bisa menembus kebenaran, tidak sesat seperti dianggap kaum muslim masa itu. Sehingga filsafat Ibn Rusyd pada masa itu lebih berkembang dan membangkitkan dunia Barat, padahal prestasi pemikiran Ibn Rusyd ini dapat dianggap sebagai puncak kejayaan era skolastik pemikiran di kalangan umat Islam.
Tanggapan tentang Pemikiran Ibn Rusyd
Saya tertarik dengan Ibn Rusyd setelah saya membaca buku Pengantar Filsafat Umum. Buku tersebut secara sekilas membahas tentang tokoh-tokoh filsuf, mulai dari filsuf Yunani sampai filsuf Islam. Setelah saya membaca sekilas tentang filsuf Islam saya tertarik dengan pembahasan Ibn Rusyd yang secara singkat dijelaskan sebagai pembela utama Aristoteles. Statemant ini kemudian membuat saya tertarik untuk mencari tau siapa Ibn Rusyd dan bagaimana pengaruhnya terhadap perkembangan dunia filsafat, terutama filsafat Islam.
Saya menemukan sebuah artikel yang kebetulan membahas apa yang saya ingin ketahui tentang Ibn Rusyd. Karena sebelumnya, yang saya tahu dan sering jumpai, filsuf Islam itu ada Ibnu Sina, Al-Farabi, dan Al-Ghazali. Tapi, ternyata Ibn Rusyd merupakan salah satu filsuf Islam yang mempunyai pengaruh besar dalam perkembangan filsafat Islam. Tapi, sayangnya pada masa itu beliau justru mendapat pengasingan karena dianggap kafir. Sehingga pemikiran-pemikiran Ibn Rusyd lebih berkembang di dunia Barat dan membangkitkan dunia Barat, terutama dalam hal ilmu pengatahuan. Kepiwaian Ibn Rusyd dalam memahami pemikiran-pemikiran filsafat Yunani, terutama Aristoles menjadi salah satu daya tarik yang membuat beliau beranggapan bahwa umat Islam jangan menolak mentah-mentah seluruh filsafat Yunani.
Saya sangat setuju dengan cara berpikir Ibn Rusyd yang rasional dalam menafsirkan agama dengan akal, namun tetap berpegang pada pedoman agama Islam (Al-Qur’an). Jadi, bukan berarti beliau benar-benar meninggalkan agama Islam. Lagi pula Al-Qu’an juga berisi dan berbicara tentang akal, filsafat, dan kewajiban berpikir, bukan?
Pertanyaan yang sering dipikirkan secara akal oleh orang-orang, misalnya mengapa Islam mengizinkan adanya peperangan? Maka jawabannya adalah untuk memerangi kezaliman. Bukankah jawaban tersebut dapat diterima akal?
Setelah membaca artikel ini saya mulai paham seperti apa pemikiran Ibn Rusyd tentang penafsiran agama dengan akal tetapi tetap pada batas-batas aqidah. Meskipun begitu saya perlu membaca lebih banyak referensi atau buku-buku sehingga menambah wawasan dan pengetahuan saya tentang pemikiran-pemikiran para filsuf, terutama yang berkaitan dengan agama dan filsafat.
Referensi
Kholis, Nur. 2007. Rasionalisme Islam Klasik dalam Pemikiran Ibnu Rusyd. International
Journal Ihya’ ‘Ulum Al-Din.19(2): 213-244
Lubis, Fadhil. 2015. Pengantar Filsafat Umum. Medan: Perdana Publishing
Catatan:
Tugas mata kuliah Dasar-Dasar Filsafat.
Komentar
Posting Komentar