Mahasiswa Daerah dan Kuliah Daring
Ditulis untuk tugas Mata Kuliah Proses Kreatif Esai
(2020)
Sejak penyebaran virus Covid-19 yang semakin meningkat di Indonesia, pemerintah mengeluarkan berbagai kebijakan untuk memutus rantai pneyebaran virus ini. Termasuk kuliah daring bagi mahasiswa di perguruan tinggi. Sejumlah perguruan tinggi pun sudah mengambil kebijakan hingga akhir semester genap ini, semua kegiatan perkuliahan dilakukan secara daring, termasuk ujian tengah semester sampai ujian akhir semester, begitu pun kampusku.
Tetapi tidak semua mahasiswa dapat dengan lancar melaksanakan kuliah daring. Para mahasiswa ini biasanya ialah mahasiswa dari daerah yang akses dan fasilitas yang dimiliki masih kurang─termasuk yang aku rasakan saat ini. Bagi sebagian mahasiswa, kuliah daring dan pulang ke rumah merupakan sebuah ‘kegembiraan’ tersendiri. Bagi sebagian yang lain, selain ‘kegembiraan’ juga akan ada ‘ancaman’ kesulitan menjalani kuliah daring, terutama kuliah daring ini mengharuskan kami memiliki akses internet yang mudah (kuota data dan sinyal/jaringan yang baik).
Kesulitan pertama yang dirasakan ialah jaringan internet yang lemah di daerah (desa), sehingga sulit untuk melakukan kuliah daring. Misalnya, saat dosen melaksanakan perkuliahan menggunakan aplikasi zoom. Kami sering terlambat masuk atau keluar-masuk ruang obrolan karena sinyal yang jelek. Saya yakin hampir semua teman-teman di daerah merasakan hal ini karena masih banyak daerah yang jaringan internetnya tidak stabil. Apalagi jika listrik padam, beberapa jaringan kartu perdana ikut padam (hilang).
Kedua, harus selalu sedia kuota internet dan biaya kuota internet yang mahal. Saat ini kuota internet sudah menjadi kebutuhan setiap orang, terutama mahasiswa. Tetapi sejak kuliah daring, saya─dan juga teman-teman daerah lain─harus selalu setiap kuota internet jika tidak ingin ketinggalan pembelajaran atau terlambat mengumpulkan tugas. Belum lagi, hampir semua kartu perdana mematok harga yang mahal untuk kuota internet, ada juga yang murah, tapi jaringan tidak stabil. Lagi-lagi mengeluarkan uang lebih untuk kuota internet adalah solusi terbaik untuk saat ini.
Ketiga, sulitnya mencari referensi untuk tugas (bahan bacaan) terutama yang tidak ditemukan di media elektronik atau media digital, sedangkan fasilitas di daerah masih kurang untuk mencari referensi. Termasuk jarak, karena kebanyakan daerah sudah melakukan pembatasan untuk keluar-masuk daerah (tentunya tidak ingin terjangkit virus Covid-19 yang mengamuk).
Keempat, butuh tatap muka dan komunikasi dua arah untuk memahami materi yang disampaikan dosen. Agaknya, hal ini dirasakan oleh hampir semua mahasiswa. Terkadang komunikasi dua arah menggunakan aplikasi seperti zoom atau google meets mengalami kendala, misalnya kurang kondusifnya kelas. Bagaimanapun menurutku, dengan kuliah tatap muka lebih mudah untuk memahami materi yang disampaikan oleh dosen. Walaupun mengalami berbagai hambatan dan kesulitan, kuliah daring ini tetap memiliki sisi positif, seperti mengajarkan mahasiswa untuk lebih disiplin, mandiri, dan menumbuhkan kesabaran yang lebih dari sebelumnya. Menurutku selama kuliah daring kami, antar mahasiswa di dalam kelas lebih solid, misalnya saling mengingatkan tentang presensi, tugas, tenggat waktu pengumpulan tugas, dan diskusi yang lebih sering dari sebelumnya─menurut saya.
Semoga wabah ini cepat berlalu dan semua kembali berjalan secara normal. Walaupun akan ada dampak pasca wabah ini, meskipun wabah telah usai.
Catatan:
Tulisan ini dimaksudkan untuk mata kuliah Proses Kreatif Esai di tahun 2020.
Komentar
Posting Komentar