PUISI: RIUH

Puisi

RIUH


Dunia sedang riuh, tidak pernah ada senyap di jalan.

Aku melangkah di antara ilalang gaduh, durinya yang tajam memberiku beberapa sayatan di tubuh.

Sakit, tapi tidak bisa aku hindari.



Hantu-hantu di kepalaku riuh di ujung malam, setiap malam.

Membuatku sulit untuk memejam, barang sejam.

Hantu-hantu itu bersekutu; bergaduh, menjajah, dan memakan dengan geram.



Ilalang di jalan dan hantu-hantu, mereka seperti teman abadi.

Yang ingin aku mati. 

Mati untuk terakhir kalinya, tanpa terbangun lagi seperti tidur yang bermimpi.



Aku ingin mati, dalam damai.

Damai bersama ilalang di jalan, hantu-hantu, dan diriku. Entah siapa diriku?

Tapi benar, aku ingin mati dengan damai. Terakhir kalinya tanpa perlu bangun lagi.


Tasikmalaya, 19 Desember 2024


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Esai-Esai Seorang Penulis Fiksi: Eka Kurniawan

ULASAN BUKU: ANTOLOGI CERITA RAKYAT PULAU AMBON DAN PULAU-PULAU LEASE

Cinta dan Kasih Tidak Pernah Cacat, Meski Kami Seorang Tunadaksa