FIKSIMINI: BAPAK! Nagasariku Mana? | KOLAK PISANG IBU

Sumber Foto: https://id.pinterest.com/


1. BAPAK! NAGASARIKU MANA?

BAPAK! NAGASARIKU MANA?

Hari pertama puasa, pasar Ramadan di kampung sebelah ramai dan padat. Orang-orang berbondong-bondong pergi ke sana untuk membeli takjil, tapi ada pula yang hanya sekadar jalan-jalan sore atau ngabuburit karena pasar tersebut berada di kaki bukit yang pemandangannya sangat indah.

Sejak pukul dua siang, pasar yang hanya ada di bulan Ramadan ini sudah dikunjungi warga dari dalam dan luar kampung. Ibu pun meminta Bapak pergi ke sana untuk membeli beberapa menu buka puasa. Bapak pergi setelah salat Asar.

“Pak, Adik mau nagasari. Tiga ya, Pak!” ucap Adik yang begitu semangat sambil mengacungkan tiga jarinya. Ramadan tahun ini Adik belajar puasa penuh, tidak seperti Ramadan sebelumnya yang hanya setengah hari saja.

“Iya, nanti Bapak belikan sepuluh, tapi Adik harus tamat puasanya,” balas Bapak sambil mengeluarkan motor bututnya.

Semakin sore, pasar Ramadan itu semakin ramai. Tampaknya es teler paling laris sebab di setiap meja es teler antrean begitu panjang dan isian bakul esnya semakin sedikit, padahal baru pukul setengah empat sore.

“Neng, nagasari lima, bakwan lima, sama pisang goreng lima,” ucap Bapak sambil menyodorkan uang dua puluh ribuan kepada pedagang gorengan. Bapak menunggu pesanannya dibungkus sambil menenteng kresek lain pesanan Ibu.

“COPET! COPET!”

Teriakan itu berasal dari belakang Bapak. Bapak dengan sigap mencari asal suara itu, lalu matanya tertuju ke seorang pria yang sedang dikejar oleh beberapa orang, dan tanpa aba-aba Bapak pun ikut mengejar orang itu. Ada lima laki-laki yang ikut mengejar pencopet yang sepertinya membawa kabur dompet seorang perempuan yang sedang mengantre di salah satu meja es teler.

Si pencopet lari ke dalam pasar menuju gang-gang sempit dan sepi. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, si pencopet sepertinya tidak terlalu hafal seluk-beluk pasar dan terjebak di jalan buntu. Dia tertangkap begitu saja, tertunduk pasrah, dan tak melawan. Ia diseret ke rumah kepada desa, warga di sini juga rupanya.

Setelah pengejaran, Bapak kembali ke pasar, lebih tepatnya ke parkiran tempat motornya mejeng. Lalu Bapak menghidupkan mesin motornya dan pergi dari sana.

“Baru puasa pertama sudah ada copet saja, aduh! Mana haus pula aku habis kejar-kejaran tadi,” keluh bapak di atas motornya.

Adik berlari menuju pintu depan begitu mendengar suara motor Bapak datang. Bapak memberikan kresek hitam kepadanya. Adik pergi ke dapur dan mengobok-ngobok isi kantong dari Bapak. Di ruang tengah, Bapak dengan bangga menceritakan asyik heroiknya di pasar Ramadan.

“BAPAK! NAGASARIKU MANA?” teriak Adik dari dapur.

“Oalah, Bu! Bu!! Copet ketangkep, nagasari lepas,” seru Bapak sambil menepuk jidat dan dibalas senyum kecut dari Ibu.


Pagerageung, 1 Maret 2025
1 Ramadan 1446 H















2. KOLAK PISANG IBU

Kolak Pisang Ibu

Ibu tak suka kolak pisang. “Terlalu manis,” katanya.

Beda lagi dengan ayah yang setiap bulan Ramadan selalu membuat kolak pisang. Setiap hari.

“Untuk abangmu,” katanya.

Padahal abang sudah tidak pulang ke rumah sejak lima tahun yang lalu.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Esai-Esai Seorang Penulis Fiksi: Eka Kurniawan

ULASAN BUKU: ANTOLOGI CERITA RAKYAT PULAU AMBON DAN PULAU-PULAU LEASE

Cinta dan Kasih Tidak Pernah Cacat, Meski Kami Seorang Tunadaksa