Sarang Baru Kuku; Rumah Tanpa Ranting
Sarang Baru Kuku; Rumah
Tanpa Ranting
"Kami tahu bahaya ini belum usai.Monster-monster besi itu tak akan pernah berhenti."
Mentari
mulai memancarkan cahayanya dari balik bukit. Ia menyapu kabut tipis yang masih
tertinggal di pucuk-pucuk pohon. Satu per satu tetes embun menjatuhkan dirinya
ke tanah. Burung-burung memulai hari dengan berkicau seolah alarm yang
membangunkan penghuni hutan yang masih terlelap. Namun, kepulan asap abu-abu di
sudut hutan membuat suasana terasa getir.
Semalaman aku tidak dapat tidur dengan
tenang. Ibu terus memeluk dan menenangkanku. Ia juga membujukku untuk tidur
dengan cepat agar hari ini kami punya tenaga untuk pindah. Pohon tempat kami
bersarang telah roboh ditumbangkan oleh monster besi milik manusia. Ada lima
sarang di sana, termasuk sarang kami dan semuanya hancur bersama tumbangnya
pohon.
“Kita harus pindah lagi, Ku. Hutan kita
sudah habis,” ucap Ibu lemah.
Aku hanya mengangguk dan kembali mengunyah
daun muda yang Ibu petik dari pucuk pohon yang telah tumbang. Sudah beberapa
bulan ini, kami berpindah dari pohon ke pohon. Makanan juga semakin sulit
dicari. Nasib baik kami tidak sampai ditangkap manusia. Biasanya ada Bu Pipi, si
Burung Gereja, yang menyampaikan pesan pada penghuni hutan untuk segera pindah.
Sayangnya, sudah seminggu dia tidak terlihat.
![]() |
| Gambar: Dokumentasi Penulis |
“Cepat! Cepat! Cepat! Monster Besi
mendekat!” teriak Bu Pipi suatu waktu dan kami pun bergegas pergi mencari
naungan baru. Kami sepakat menyebut benda yang digunakan manusia untuk
menumbangkan pohon kami dengan sebutan Monster Besi. Permukaannya mengkilap dan
bergerigi, serta mengeluarkan suara bising yang menderu. Suaranya bahkan masih
terdengar dari kejauhan.
Di antara semua penghuni hutan, Bu Pipi
dan kawanannya sering keluar hutan sehingga kerap berada di dekat manusia dan
terbiasa menguping pembicaraan mereka. Kemudian, menyampaikan informasi apa
saja yang didapat kepada seisi hutan. Termasuk datangnya bahaya.
Ayah datang menghampiri kami, “Bersiaplah!
Rombongan ini akan dipimpin Momo. Kuku bisa menumpang di punggungnya.”
Momo si Monyet sangat kami andalkan di
hutan ini, terutama karena dia hapal seluk-beluk hutan. Dia sangat lincah dan
gesit melompati cabang-cabang pohon, membuat pergerakannya lebih cepat daripada
bangsa kami.
“Ayo, ikuti aku! Kita akan mendaki ke
Selatan. Ada tempat untuk membuat sarang. Meskipun bukan pohon seperti yang
biasa kita tinggali, namun mereka adalah pelindung yang hebat,” terang Momo
pada rombongan sebelum kami berangkat. Setelah itu, ia mempersilakanku naik ke
punggungnya.
“Apakah tempatnya jauh, Mo?” tanyaku
sambil memegang erat pundaknya.
“Bagiku hanya dua jam perjalanan. Bagi
kalian mungkin satu sampai dua hari. Kawanan kalian punya tekad kuat untuk
segera pindah. Aku yakin mereka akan cepat sampai,” jawab Momo yang sepertinya
dapat membaca kekhawatiranku.
Dia telah melompat dan meraih
cabang-cabang pohon. Satu, dua ... entah sudah pohon yang ke berapa. Momo
bergerak sangat cepat sampai aku tak bisa melihat dengan jelas, hanya
bayang-bayang yang melesat seperti hantu.
“Mereka pasti tertinggal. Momo, bagaimana
mereka bisa tahu tempatnya? Bagaimana jika orang tuaku tersesat?” tanyaku lagi
sambil berusaha tetap fokus sebab aku mulai merasa pusing dan mual.
Aku terbiasa dengan pergerakan lamban dan
senyap. Kata Ayah, begitulah kelebihan bangsa kuskus, melalui pergerakan lamban
kami menyatu dengan hembusan angin di ranting-ranting pohon untuk menghindari
predator. Namun, di atas punggung Momo yang begitu gesit ini, dunia berputar
terlalu cepat. Aku mencengkeram pundaknya lebih erat. Kecepatan ini telah
merampas ketenanganku.
“Tenang saja!” jawabnya sambil melompat
dan meraih cabang-cabang pohon. “Aku sudah meninggalkan tanda pada jalur yang
sudah kita lewati. Aku dan ayahmu telah menyiapkan taktik ini,” lanjut Momo.
Momo melambat dan berhenti, lalu menuruni
batang pohon terakhir yang ia lompati.
“Tutup matamu, Ku!” pinta Momo padaku.
Aku menolak perintahnya. Mataku membelalak
melihat pemandangan di depan. Sejauh pandanganku hanya ada hamparan
tunggul-tunggul pohon yang dipenggal rata. Tunggul-tunggul itu berbaris kaku di
atas tanah kering. Batang-batang pohon tumbang tak berdaya. Aku tahu itu
perbuatan siapa. Sudah pasti manusia dengan monster besinya.
“Monster besi raksasa,” ucapku pelan saat
melihat makhluk besi berlengan yang besarnya berkali-kali lipat dari monster
besi bergerigi.
Momo tak bersuara. Kini dia berjalan di
atas tunggul dan batang-batang itu. Anak-anak pohon tertunduk lesu dan
mengering, isak tangis mereka terdengar lirih. Momo tetap diam, namun setiap
kali melewati anak pohon, tubuhnya gemetar dan air mata meluncur deras di
pipinya.
Momo membawaku ke dataran yang lebih
tinggi, hutan yang belum terjamah gigi monster besi. Di sana, kokoh berdiri
tumbuhan-tumbuhan raksasa yang tinggi menjulang. Daun-daunnya sangat besar,
lebar, dan melengkung. Daun-daun itu berayun lembut ditiup angin. Aku terpana
olehnya, hampir-hampir lupa cara menutup mulut. Sejenak sedihku menghilang.
“Momo!” seruku. “Apakah ini pohon matoa
jenis baru? Gagah sekali seperti raksasa!” lanjutku.
Momo terkekeh menggelengkan kepalanya,
“Bukan, Ku. Aku pernah mendengar manusia menyebutnya dengan Ndowin atau
pisang raksasa,” balas Momo.
“Buah pisang yang waktu itu kau berikan
padaku?” kataku sambil mengingat buah dengan kulit berwarna kuning yang ia
berikan padaku tempo hari. Aku tidak percaya buah manis itu memiliki pohon yang
sangat besar.
“Iya, betul. Hanya saja yang kubawa waktu
itu pisang biasa. Tinggi Ndowin ini bisa mencapai 25 sampai 30 meter
hampir setinggi pohon matoa.” Momo memang pintar. Wawasannya ia dapat selama
tinggal bersama manusia, namun entah apa yang membuatnya kabur dari mereka.
Kata orang tuaku, pulau ini bukan rumah asli Momo. Ia berasal dari pulau
seberang, lalu dibawa oleh manusia ke pulau ini.
“Batangnya besar sekali! Mereka pasti
tidak bisa dikalahkan oleh monster besi.” Aku menerka-nerka kekuatan Ndowin
yang membuat Momo membawa kami pindah ke sini.
“Diameter batangnya bisa mencapai dua
meter, Ku. Sayangnya, batang yang kamu lihat itu bukan kayu keras, tapi batang
semu yang terbentuk dari pelepah daun yang saling berpelukan erat. Jadi,
sebenarnya mereka tidak dapat disebut pohon.”
Jawaban Momo kali ini membuatku kembali
pesimis. Momo membawaku mendekat ke salah salah satu Ndowin. Aku
menyentuh batangnya. Besar sekali, beribu kali lipat tubuhku, bahkan dari bawah
sini aku tak dapat melihat ujungnya.
“Meskipun batangnya tidak sekuat tempat
tinggal kita yang dulu, mereka punya semangat kebersamaan yang luar biasa,”
lanjut Momo.
“Lihat!” Momo menunjuk ke salah satu sisi.
Pandanganku mengikuti arah telunjuknya.
“Pisang selalu tumbuh berumpun, begitu pun
Ndowin. Mereka tidak pernah mau hidup sendiri. Ke mana pun pergi, mereka
akan membawa keluarganya,” jelas Momo.
Dari dalam rumpun di bawah naungan
tumbuhan raksasa ini, sehelai daun menyentuh pipiku. Lembut dan hangat.
“Ayo masuk, Ku! Mereka menyambut dan
mempersilakan kita untuk tinggal dalam rumpun ini. Mereka sudah tahu kehancuran
hutan di Timur.” Momo menyodorkan punggungnya kepadaku.
Hari berlalu, aku mulai terbiasa dengan
tempat tinggal baruku. Sarang baru yang kubuat sudah mulai terbentuk. Aku tidak
mau hanya diam menunggu rombongan kami datang, jadi sedikit demi sedikit dengan
bantuan Momo, aku membangun sarang baru untuk keluargaku. Selain itu, aku juga
belajar banyak hal tentang Ndowin atau pisang raksasa ini.
Daunnya yang lebar dan berlapis lilin
menjadi payung alami bagi kami saat hujan maupun saat panas terik. Sebelum berbuah,
muncul kuncup berwarna ungu kemerahan di ujung batang. Di dalamnya terdapat
bunga-bunga yang akan menjadi buah pisang.
“Manusia menyebutnya jantung pisang.
Mereka juga mengambil jantung itu untuk dijadikan makanan, Ku. Manusia memang
tidak pernah merasa cukup, padahal buah pisang matang lebih manis daripada
jantungnya yang sepat. Mereka aneh dan serakah!” ucap Momo saat aku melihat
salah satu Ndowin dengan benda aneh yang keluar dari batangnya.
Namun ... tiga hari berlalu, rombongan
kami belum juga tiba. Padahal prediksi Momo, mereka paling lambat sampai dalam
dua hari perjalanan. Aku mulai gelisah, namun aku juga sadar bangsa kuskus
tidak secepat monyet, apalagi burung yang bisa terbang dengan sayapnya. Setelah
melihat kegelisahanku, Momo mengajakku berkeliling hutan.
“Momo! Ndowin yang kita ambil
buahnya kemarin mau mati. Batang dan daunnya mulai layu.” Aku menunjuk salah
satu Ndowin yang sebelumnya sudah kami panen buahnya.
“Pohon pisang hanya berbuah sekali seumur
hidup. Setelah buahnya matang untuk menghidupi penghuni hutan, mereka akan
mati. Jangan khawatir, Ku! Lihat di bawah sana, tunas-tunas kecil siap
menggantikan induknya untuk menjaga kita. Batang yang mati dan membusuk akan
menjadi penyubur tanah agar tunas tumbuh sehat dan kuat,” Momo menanggapi
aduanku sambil mengunyah buah pisang.
Aku ingin kembali bertanya, namun
kuurungkan sebab sayup-sayup menderu suara yang sangat kami kenali terdengar.
Aku dan Momo terpaku. Apakah monster-monster itu telah mengikuti kami ke
dataran ini? Lalu, bagaimana nasib rombongan kami yang belum juga tiba?
“Kuku, kembalilah ke rumpun! Aku akan
mencari keberadaan mereka dan membantu mereka cepat sampai.”
Aku mengangguk setuju. Ia kemudian
melompati daun-daun Ndowin. Aku belum beranjak dari pelepah tempatku
duduk. Mataku terus tertuju ke arah perginya Momo sampai ia benar-benar tak
terlihat pandanganku, sampai daun-daun besar itu berhenti bergerak dan berganti
dengan ayunan lembut dari angin.
Tak lama kemudian, selembar daun
mendekapku dengan hangat. Ia mengoperku ke daun yang lain, terus begitu sampai
aku kembali ke rumpun dengan selamat. Begitu sampai di sarang, tubuhku terasa
sangat lelah. Aku pun terlelap dalam buaian angin. Sejak sampai di hutan ini,
aku memang belum beristirahat dengan cukup. Dalam lelapku, buaian angin tadi
perlahan berubah. Desir lembutnya berubah janggal. Aku mencoba menutup telinga,
tapi suara itu semakin kencang.
Huummm ... vrrr ... huummm ...
Suara itu menggema di kepalaku. Asap dan
debu berlomba memasuki rongga hidungku. Sesak sekali. Mataku juga terasa perih,
kini aku tak dapat melihat dengan jelas. Hanya asap dan debu panas yang terasa.
Api semakin mendekat, tapi ayah dan ibu belum juga tiba.
“KUKU! KUKU!” aku kenal suara itu. Itu
suara ibu, tapi di mana dia. Aku tak dapat melihat apa-apa. Asap semakin tebal.
“CEPAT LARI, KU!”
Suara itu semakin keras, tapi aku tak bisa
beranjak. Kakiku tertahan. Api semakin mendekat, panas sekali. Aku berusaha
menggerakkan kakiku, tapi tetap tergeming. Api itu berubah jadi monster api
bergerigi, matanya tertuju padaku, dan lidahnya menjulur-julur. Dia siap
melahapku. Suara itu kembali terdengar, namun ini bukan suara ibu.
“Kuku ... Kuku ....”
“IBUUUUUU!!!”
Aku tersentak. Monster api itu menghilang.
Kini kembali sunyi, sarangku masih utuh.
“Kau mimpi buruk lagi, Ku?” Itu suara Ibu.
Ibu sekarang berada di sampingku. Ada Ayah juga. Aku tak bisa berkata-kata dan
langsung memeluk mereka.
“Ba-gai ... Ba-gai ... ma-na ... I ... bu
...” Aku tergagap.
“Momo membantu kami cepat sampai. Kamu
tidur dari kemarin. Pasti lelah sekali, ya membangun sarang ini, Nak,” ucap Ibu
sambil mengelus kepalaku dengan bangga.
“Syukurlah, kamu baik-baik saja.” Ayah
kini menimpali.
Huummm ... vrrr ... huummm ...
Suara monster itu masih ada dan semakin
terasa dekat. Kata Ayah, monster itu memang semakin mendekat ke arah Selatan.
Ayah menyuruh kami untuk tetap tenang. Katanya dataran ini sangat tinggi dan
sulit dijangkau manusia dengan monster besinya. Butuh waktu yang tidak
sebentar.
Keesokan harinya, rombongan kami kembali
berkumpul. Di bawah naungan daun-daun raksasa Ndowin bersama
tunas-tunasnya yang semakin rapat, kami berpegangan tangan dengan erat. Kami
tahu bahaya ini belum usai. Monster-monster besi itu tak akan pernah berhenti.
Manusia-manusia serakah akan terus mengusik. Namun, selama kami selalu bersama,
saling memeluk, dan berbagi di bawah naungan Ndowin. Selama itu pula,
hutan akan tetap punya cara untuk kembali bernapas.
Bandung, 1 Juli 2026

Komentar
Posting Komentar