Postingan

Mengenal Childfree dan Hal-Hal yang Harus Kamu Ketahui tentang Hidup Bebas Anak dari buku “Childfree & Happy Keputusan Sadar Hidup Bebas Anak” karya Victoria Tunggono

Gambar
Beberapa tahun terakhir ini childfree  menjadi topik yang ramai dibicarakan masyarakat Indonesia. Istilah ini populer setelah seorang influencer  Indonesia dan suaminya mengungkapkan bahwa mereka memilih untuk childfree . Sejak itu, istilah ini sering menjadi bahan diskusi. Pengertian Childfree Tahu filosofi “ banyak anak, banyak rezeki” ? Filosofi ini terkenal di masyarakat  Indonesia , bahkan sampai saat sekarang masih ada keluarga yang memegang prinsip ini. Mereka percaya banyak anak berarti banyak rezeki atau keberuntungan. Hal ini pun tak lepas dari peran keyakinan yang dianut bahwa setiap anak atau setiap orang membawa rezekinya masing-masing. Padahal filosofi yang muncul sejak era kolonial Belanda di Indonesia ini merupakan slogan yang dipakai pihak Belanda sebagai propaganda untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja secara gratis pada masa Cultuurstelsel. Istilah childfree  justru bertentangan dengan filosofi tersebut. Saat menerjemahkan childfree   ke dalam...

Isi Kepala Akhir-Akhir Ini

 Minggu, 31 Agustus 2025 Hari Minggu yang panjang dengan hujan lembut yang turun sejak subuh tadi. Riuh sekali rasanya, tidak hanya di luar sana tapi juga di dalam kepala ini. Banyak pertanyaan yang belum terjawab; banyak mimpi yang terpaksa disimpan dalam-dalam. Hujan hari ini sepertinya tahu, aku butuh teman. 

FIKSIMINI: BAPAK! Nagasariku Mana? | KOLAK PISANG IBU

Gambar
Sumber Foto: https://id.pinterest.com/ 1. BAPAK! NAGASARIKU MANA? BAPAK! NAGASARIKU MANA? Hari pertama puasa, pasar Ramadan di kampung sebelah ramai dan padat. Orang-orang berbondong-bondong pergi ke sana untuk membeli takjil, tapi ada pula yang hanya sekadar jalan-jalan sore atau ngabuburit karena pasar tersebut berada di kaki bukit yang pemandangannya sangat indah. Sejak pukul dua siang, pasar yang hanya ada di bulan Ramadan ini sudah dikunjungi warga dari dalam dan luar kampung. Ibu pun meminta Bapak pergi ke sana untuk membeli beberapa menu buka puasa. Bapak pergi setelah salat Asar. “Pak, Adik mau nagasari. Tiga ya, Pak!” ucap Adik yang begitu semangat sambil mengacungkan tiga jarinya. Ramadan tahun ini Adik belajar puasa penuh, tidak seperti Ramadan sebelumnya yang hanya setengah hari saja. “Iya, nanti Bapak belikan sepuluh, tapi Adik harus tamat puasanya,” balas Bapak sambil mengeluarkan motor bututnya. Semakin sore, pasar Ramadan itu semakin ramai. Tampaknya es t...

PUISI: HANTU KELAM

Puisi  Hantu Kelam Hantu kelam mengetuk pintu kamarku, Malam, pukul sebelas dua puluh menit Aku tak tahu mengapa aku hanya diam; tak menolaknya juga tak membukakannya pintu Lagipula, Siapa yang mau membukakan pintu untuk hantu? tok tok tok Ketukan pintu terdengar sepanjang malam; tentu ulah si hantu Aku yang tak bisa tidur, bersembunyi di balik selimut tebalku Tak menolaknya, juga tak membuka pintu untuknya. Ageung, 13/10/2024 Pukul 22:33

KUTIKULA UTI

 ...... Remah-remah ingatan masa lalu saya berlalu-lalang yang terkadang membuat saya tersenyum, kadang pula membuat saya murung. Sayap di punggung saya bergoyang-goyang ditiup angin. Pertanda ia sudah siap terbang. Saya pun berdiri dan bergeser semakin ke pinggir, bersiap untuk terbang. Saya mengadah ke langit biru tanpa awan, burung-burung terbang bebas di sana. Saya akan menyusul kalian. “Ayah, emak. Maafkan saya tidak bisa menjadi pelindung yang kalian harapkan. Saya tidak bisa menjadi Kutikula itu, yang melindungi apa yang seharusnya ia lindungi, dirinya sendiri. Saya sudah tidak tahan lagi. Sudah cukup saya bertahan tanpa suara. Saya ingin kalian memeluk saya kembali.” Angin membantu sayap saya mengepak dan menerbangkan saya. Hantu mata merah berada di samping saya, ikut terbang bersama saya dan burung-burung. Saya sudah tidak takut lagi dengannya. Kami berpegangan tangan dan terbang bersama. Di Bumi Tahun 2025 (Penggalan Cerpen Kutikula Uti)

PUISI: RIUH

Puisi RIUH Dunia sedang riuh, t idak pernah ada senyap di jalan. Aku melangkah di antara ilalang gaduh, durinya yang tajam memberiku beberapa sayatan di tubuh. Sakit, tapi tidak bisa aku hindari. Hantu-hantu di kepalaku riuh di ujung malam, setiap malam. Membuatku sulit untuk memejam, barang sejam. Hantu-hantu itu bersekutu; bergaduh, menjajah, dan memakan dengan geram. Ilalang di jalan dan hantu-hantu, mereka seperti teman abadi. Yang ingin aku mati.  Mati untuk terakhir kalinya, tanpa terbangun lagi seperti tidur yang bermimpi. Aku ingin mati, dalam damai. Damai bersama ilalang di jalan, hantu-hantu, dan diriku. Entah siapa diriku? Tapi benar, aku ingin mati dengan damai. Terakhir kalinya tanpa perlu bangun lagi. Tasikmalaya, 19 Desember 2024

ULASAN BUKU: ANTOLOGI CERITA RAKYAT PULAU AMBON DAN PULAU-PULAU LEASE

Gambar
Identittas Buku Judul:  Antologi Cerita Rakyat Pulau Ambon dan Pulau-Pulau Lease Penulis:  Anna P. Soplanit - Aprilia Beatrix Mainake - Betsi Paulina Urlialy Debby Latukolan - Elizabeth Hehanussa - Elizabeth Hiariej Ester Haumahu - Fitriah Djibran - Halija Pelu Inggrit Schane J. Sahertian - Iriyani Ode - Jacomina Lopulalan Juliana Sapulette - La Amudin - Leonie Sipahelut - Martha Telapary Martje Dela Maitimu - Maryam Usemahu - Masnun Laitupa Mersye M. Aipassa - Munarita Iriani - Prodonse Ivone Huwae Risna J. Muskitta - Rusna Lohy - Ruth Tutupary - Santjie I. Amarduan Sri Utari - Syarifa Munira Bin Thahir - Tabitha Pattean Tressy Nensy Loupatty - Yeremias Jemi Rettob - Yulhendri  Penyunting: Asrif -  Evi Olivia Kumbangsila Desain Sampul/Penata huruf: Mono Goenawan Tahun terbit: 2019 Kantor Bahasa Maluku Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan  kerja sama Penerbit Garis Khatulistiwa (De La Macca Grup) CERITA RAKYAT PULAU AMBON...

“MATI” (Catatan Pinggir 12 : Goenawan Muhammad (Tempo, 22 Maret 2015))

Ditulis untuk Mata Kuliah Proses Kreatif Esai “MATI” (Catatan Pinggir 12 : Goenawan Muhammad (Tempo, 22 Maret 2015)) Di dalam buku Catatan Pinggir 12 yang merupakan buku kumpulan esai Goenawan Muhammad yang beliau tulis di rubrik catatan pinggir majalah tempo   ada sejumlah judul esai. S aya tertarik   membaca sebuah esai yang berjudul ”Mati”. Saya kira esai ini akan menceritakan pendapat beliau bagaimana kematian itu dan pendapat beliau tentang bunuh diri. Yang akhir-akhir ini saya memang tertarik tentang kematian yang tidak pasti kapan datangnya itu. Esai ini ternyata merupakan ungkapan ketidaksetujuan Goenawan Muhammad terhadap hukuman mati, sepertinya beliau mengalami trauma, karena pada saat belum berumur enam tahun, ayahnya dieksekusi oleh pasukan Belanda. Di dalam esai ini beliau menceritakan bagaimana Indonesia dulunya dibangun dari jutaan tembakan dan kematian. Kekerasan yang tidak berhenti, bahkan setelah proklamasi kemerdekaan pun Indonesia masih harus mempertahanka...